Flags of Our Fathers
Judul tulisan ini diambil dari sebuah judul film garapan hollywood, film ini berkisah tentang cerita salah satu anak dari 6 orang marinir Amerika yang mengibarkan bendera Amerika di atas gunung Saribuchi, pulau Iwo Jima Jepang pada saat PD II. Ke enam marini r itu adalah Ira Hayes, Franklin Sousley, John Bradley, Harlon Block, Michael Strank dan Rene Gagnon . Tiga orang dari marinir tersebut gugur (Franklin, Harlon, dan Micahel) dalam pertempuran setelah pengibaran bendera, 3 orang lainnya pulang ke Amerika dan menjadi pahlawan bahkan menjadi selebritis.
Photo pada saat pengibaran bendera tersebut menjadi terkenal, karena dianggap sebagai simbol kemenangan Amerika menaklukan pulau Iwojima dari tangan Jepang, bahkan pemerintah Amerika membuat monumen-nya.
Oleh pemerintah Amerika photo tsb dijadikan icon untuk kampanye penarikan dana untuk membiayai perang. Tiga marinir yang selamat dipanggil pulang ke Amerika dan diikutsertakan menjadi juru kampanye penarikan dana di setiap negara bagian di Amerika. Mereka diperlakukan layakanya selebriti dan menjadi terkenal karena dianggap sebagai pahlawan perang.
Namun marinir yang selamat tersebut tidak nyaman dengan kondisi tersebut, mereka merasa bukan pahlawan, dan mereka selalu ingat dengan kawan-kawanya yang gugur di medan pertempuran. Ira Hayes (marinir yang selamat, seorang keturunan indian) bahkan menjadi stress dan menjadi pemabuk. Mungkin hanya Rene Gagnon yang menikmati selebrasi sebagai orang terkenal, dia memanfaatkan ketenarannya untuk bisnis. Beda dengan sosok John Bradley (disamping tampak photo beliau) , orangnya simpatik dan pendiam. Dia tetap menjalankan tugasnya sebagai pegumpul dana tetapi tidak larut dalam ketenarannya.
“John Bradley will be forever memorialized for a few moments action at the top of a remote Pacific mountain. We prefer to remember him for his life. If the famous flag-raising at Iwo Jima symbolized American patriotism and valor, Bradley’s quiet, modest nature and philanthropic efforts shine as an example of the best of small town American values.”
—Editorial, “The Antigo Daily Journal”
Anak yang menjadi tokoh dalam film ini adalah anak dari John Bradley, dia akhirnya bisa memahami kenapa ayahnya enggan disebut pahlawan, setelah dia melakukan wawancara dengan beberapa kolega ayahnya pada saat perang. Semasa hidupnya sang ayah tidak pernah menceritakan keberhasilannya menaikan bendera Amerika di Iwo Jima kepada anak-anaknya.
e-Leadership part 3
Hmm..kalau di tulisan saya yang kedua sepertinya saya banyak menuntut kepada orang lain…pada dasarnya setiap diri kita adalah pemimpin, dan saat kita bekerja di dunia “e”, sifat kepemimpinan itu gak boleh hilang semata-mata karena kita menjadi bawahan. Sudah dari sononya para penggiat IT tipikal orang-orang merdeka, yang gerah dengan berbagai aturan birokratis yang membuat kreatifitasnya tersumbat.
Tapi, bukan berarti menjadi orang yang anti sosial, IT hanyalah tool, alat bantu orang dalam menyelesaikan masalahnya, artinya dunia IT itu tetap ada unsur manusianya bukan semata-mata aspek teknis belaka. Bicara mengenai orang adalah bicara mengenai sebuah entitas yang komplek, bahkan super komplek. Dengan segala potensi yang Allah SWT berikan kepada manusia, menjadikan sosok manusia menjadi mahluk yang mulia. Kembali ke tool alias alat bantu manusia bernama IT, jangan sampai alat bantu tersebut malah merendahkan aspek kemanusiaan, jadi terbalik. Kenapa demikian, saya mengamati kadang profil manusia zaman sekarang kecenderungannya sudah dijajah oleh teknologi, yang akhirnya berprilaku seperti mesin. Simple saja, coba kita ada dalam sebuah kendaraan umum, semua orang terdiam dalam alam pikirannya masing-masing, cuek dengan sesama penumpang, alias tidak besosialisasi, bahkan sebatas basa-basi pun tidak. Tapi tidak dengan handset-nya, dia cukup akrab, dunia kemanusiaan-nya hilang tenggelam dalam fitur-fitur HP keluaran terbaru yang belum terexplore semua. Hmm..eh masih nyambung gak neeh…
bersambung lagi ahh
e-Leadership part 2
Dari kisah no 1, dikupas bahwa seorang pemimpin adalah pelayan. Bagaimana bagi seorang e-Leader ? yah prinsipnya sama saja, saya gak mau repot-repot membuat kriteria seorang e-Leader yang memiliki e-Leadership. Cuman, sebagai bawahan saya kadang memimpikan seorang pemimpin yang :
- Membuat diri saya mau bekerja bukan karena dia ada atau dia menyuruh, tapi murni dari motivasi diri sendiri.
- Percaya pada kemampuan saya sebagai bawahannya, mampu memberikan teladan cara bekerja yang baik tanpa harus menyuruh.
- Tahu kapan bawahan lagi bermasalah dan mampu merecover tim tetap solid ketika sedang krisis.
- Tahu detail tapi tidak ikut-ikut ngurusin detail
- Kehadirannya tidak menjadi biang “males kerja” atau membuat suasana “horor”, tapi malah membuat tim antusias dan nyaman.
- …bersambung
e-Leadership part 1
Bicara pemimpin, sepertinya banyak referensi tokoh-tokoh yang bisa dijadikan panutan dalam hal kepemimpinan. Seorang pemimpin bukan seorang pejabat, karena seorang pejabat belum tentu memiliki sifat kepemimpinan. Bicara kepemimpinan adalah bicara pelayanan, seorang pemimpin adalah seorang “pelayan” bagi yang dipimpinnya. Wah masa iya ? tentu saja kita berkerut mendengarnya, karena paradigma kita mungkin sudah tersetting bahwa pemimpin itu yang dilayani, menguasai, punya kedudukan tinggi, perlu dihormati dll.
Ingat kisah Amirul Mukminin Umar bin Khatab ketika menjadi khalifah, dia keliling kampung malam hari untuk melihat kondisi rakyat-nya. Suatu saatdia melihat ada seorang ibu yang ditinggal suaminya bertugas ke medan perang sedang memasak batu dalam rangka pura-pura memasak supaya anaknya tidak merengek terus minta makan. Ketika si anak bilang ” Bu, sudah masak belum ?”, si Ibu menjawab, ” Belum nak, tidur aza dulu”, yah apa mau dikata, bahan makanan sudah habis, si Ibu hanya pura-pura untuk membuat si anaknya yang kelaparan merasa tenang dan bisa tidur.
Melihat adegan itu, Umar merasa bersalah sekali, sebagai pemimpin dia merasa sudah menelantarkan rakyatnya. Dan Umar langsung memikul sendiri bahan makanan dari gudang Bulog buat diserahkan ke keluarga siIbu tadi, bahkan Umar menolak ketika pembantunya memberi pertolongan untuk memikul bahan makanan tadi. Kurang lebih Umar berkata ” Memangnya kamu mau memikul semua dosaku di akhirat kelak ?”
So..demikian sosok pemimpin sejati, dia adalah pelayan, bukan yang dilayani. Kisah diatas betul-betul terjadi dan masih banyak kisah sejenis yang menceritakan kepemimpinan seorang Umar. …bersambung
Meutia
Namanya Meutia, nama lengkapnya Meutia Asfa Hanania. Panggilan sayangnya ada De Muc Muc cayang ayah..hampir dua tahun usianya dan setiap hari selalu menampakan keajaiaban-keajaiban seorang anak kecil yang lincah, serba ingin tahu, bossy, cerewet dan wahh masih banyak lagi. Wajah polosnya menampakan kejujuran dan keindahan, hilang sudah penat dan cape ketika dia memanggil Ayaaahhh…
Ketika dia bersikeras untuk mencoret-coret tembok dengan spidol dan krayon, tidak kuasa diri ini melaranganya, walaupun Bundanya terlihat berkerut. Ketika mau berwudhu, dia ikut memeragakan cara berwudhu..berusaha mengikuti sambil tidak menghiraukan baju dan celananya basah. Keharuan merebak ketika dia ikut sholat, gerakan takbirnya sudah cukup baik walaupun bermasalah dalam ruku, dia tidak bisa ruku kecuali nungging, dan wahh…sholatnya cuma satu rakaat.
Lucu, bangga dan ..mhh sedih
Ya Allah, Engkau titipkan dia dalam keluarga kecil ini, sanggupkan kami memikul beban amanah ini untuk bisa mengantarkannya menjadi seorang muslimah kelak, seorang wanita terhormat yang pandai menjaga kehormatannya, menjadi seorang hamba-Mu yang taat yang mampu mengenal dirinya dan mengenal-Mu.
Aku usap ikal rambut halusnya, sejumput do’a aku panjatkan….
Imajinasi
Imajinasi merupakan karunia Allah SWT yang berharga bagi manusia, dengan imajinasi kita bisa memetakan keinginan, harapan dan impian yang kadang bergerak begitu bebas menembus ruang waktu dan tanpa sekat . Berbagai penemuan besar muncul bisa jadi diawali dengan imajinasi yang pada awalnya mungkin hanya mimpi di siang hari bolong.
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan tentang dirimu…
Suatu saat ada seorang tunawisma yang setiap harinya tidur di kursi taman ditawari tidur gratis di hotel berbintang. Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya tunawasma tersebut, dan diambilnya tawaran itu. Namun apa yang terjadi, belum juga pagi menjelang, sang tunawsima sudah kabur dari kamar hotel yang nyaman dan indah tersebut dan kembali ke kursi taman yang dingin dan sempit untuk melanjutkan tidur. Ada apa gerangan ? ternyata ketika dia tidur di hotel yang mewah, indah dan nyaman sang tunawisma tidak bermimpi indah, dia bermimpi buruk tidur di kursi taman yanag dingin dan sempit. Padahal setiap dia tidur di kursi taman yang dingin dan smepit itu, dia selalu bermimpi indah.. salah satunya mimpi menginap di kamar hotel yang hangat dan nyaman.
Balada sang HP
Handphone pertama yang saya miliki adalah Nokia 6150, yang saya miliki sekitar tahun 2000-an. Tidak tau persis alasan saya perlu membeli handphone itu, yang jelas banyak teman-teman sudah menggunakan HP maka tidak ada salahnya saya pun harus segera mempunyai HP. Apakah itu sebuah kebutuhan atau kemauan tidak jelas perbedaanya. Yang jelas ketika saya ber-hp ria, pernah suatu saat tidak mau menerima telp, cemas ketika hp berdering, atau perasaan cemas ketika ketinggalan hp.
Pernah juga mengalami perasaan merasa pede ketika nerima panggilan di muka umum, wah pokokanya gaya. Tapi ada juga perasaan minder ketika hp berdering masih belum polyphonic ketika era polyphonic lagi ngetrend. Ada juga saat ketika sebel banget melihat hp, bahkan kalau rusak pun tidak menyesal (supaya ada alasan buat beli yang baru), dan akhirnya pernah kejadian, suatu saat hp saya jatuh ke selokan, bukannya dikeringan malah dicuci, walhasil pada koslet dan rusak.